Categories

Kamis, 29 September 2011

Muhammad dan Istri-istrinya.

Dilemma memandang fakta sejarah.
Kita adalah umat muslim. Penganut ajaran tauhid yang dibawa seorang anak manusia dari dataran Arab sebagai rahmatan lil alamin. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Sang Pembawa berita, Nabi Kita, adalah seorang Arab dari suku Quraisy bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Sebagai seorang nabi lengkap dengan kualitas-kualitas kenabiannya, sudah tentu segala polah tingkah lakunya menjadi panutan bagi umatnya. Segala perkataan, ketetapan dan perbuatannya ditempatkan sebagai penerjemahan ajaran islam yang dibawanya kedalam dimensi manusia (hadits).
Selama riwayat hidupnya, Muhammad memang mengajarkan kebajikan hidup yang tak satupun orang mampu menandinginya. Selain sebagai tokoh spiritual yang sangat dalam pengaruhnya, beliau juga seorang tokoh politik yang sangat dominan, seorang ahli strategi taktik, panglima perang terkemuka dan tentu saja propagandis paling sukses sepanjang sejarah dunia. Tak heran jika kemudian Michael Hart menempatkan beliau di posisi pertama sebagai manusia paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia, meninggalkan Sir Isaac Newton di posisi kedua dan Isa Al-Masih di posisi ketiga.
Sebagai seorang Nabi, Muhammad begitu sempurna di mata pengikutnya. Ucapannya adalah hukum Tuhan, akhlaknya adalah tuntunan, ketetapannya merupakan jalan keselamatan. Begitulah islam berkembang hingga di zaman global sekarang ini. Muhammad tetap tak tergantikan.
Dalam rangka mengikuti tuntunan Muhammad di zaman modern ini, terjadi perbedaan pendapat dalam memahami pesan-pesan dari tuntunan sang nabi. Sebagian menelan bulat-bulat secara tekstual dan berpendapat bahwa ajaran islam yang dibawanya sudah komprehensif dan lengkap denyentuh segala bidang kehidupan, sementara sebagian yang lain memahaminya dengan klaim bahwa kalaupun Muhammad hisup di zaman sekarang, tentunya, banyak hal yang akan berubah dari hadits-haditsnya, karena semua itu adalah penerjemahan pesan-pesan ilahiah ke dalam kerangka sosio-antropologis penerjemahnya saja. Namun, biarkanlah perdebatan itu diambil porsinya oleh mereka yang masih memperdebatkan, yang akan dikemukakan disini adalah hal yang lain lagi.
Salah satu problematika dalam meniti tuntunan Muhammad, yang hingga saat ini masih menuai kontroversi dan kerap dijadikan titik tembak mereka yang tidak suka dengan ajaran Muhammad adalah fakta bahwa Muhammad memiliki banyak istri, bahkan sangat banyak!.
Hal ini tentu telak bagi kita. Satu sisi kita mengimani secara penuh bahwa Muhammad adalah Rasulullah, manusia terpilih yang suci, sang juru selamat, penebar syafa’at di hari kiamat, namun di sisi lain timbul keraguan dalam diri kita, seorang yang suci mengoleksi Sembilan orang istri dalam satu waktu?? Bukankah itu sebuah arogansi yang sangat berlebihan? Terlampau lepas menuruti nafsu? Menurunkan derajat perempuan? Ataukah ada apa gerangan dibalik itu semua?
Kata Mereka Para Orientalis
Melihat fakta diata, kaum orientalis mengeluarkan argument yang akan menggoyahkan ketetapan siapapun yang beragama dengan ilmu, namun belum cukup ilmu yang dimilikinya.
“Lihat! Muhammad sudah berubah. Tadinya, ketika ia masih di Mekkah sebagai pengajar yang hidup sederhana, yang dapat menahan diri dan mengajarkan tauhid, sangat menjauhi nafsu hidup duniawi, sekarang sudah menjadi orang yang diburu syahwat, air liurnya mengalir bila melihat perempuan. Tidak cukup tiga orang istri saja di rumah, bahkan ia kawin lagi dengan tiga orang perempuan, sesudah itu mengawini tiga orang perempuan lagi, selain Roichanah. Tidak cukup kawin dengan perempuan-perempuan yang sudah tidak bersuami, maka ia jatuh cinta kepada Zainab binti Zahsy yang masih terikat sebagai istri Zaid bin Haritsah, bekas budaknya. Soalnya taklain karena ia pernah singgah di rumah Zaid ketika ia sedang tak ada di tempat itu, lalu ia disambut oleh Zainab. Ketika itu ia sedang mengenakan pakaian yang memperlihatkan kecantikannya, dan kecantikan ini sangat mempengaruhi hatinya. Waktu itu ia berkata “Mahasuci Ia yang telah membolak-balikkan hati manusia!”. Kata-kata ini diulanginya lagi ketika ia meninggalkan tempat itu. Zainab mendengar kata-kata itu dan ia melihat api cinta bersinar dalam matanya.
Zainab merasa bangga terhadap sirinya dan apa yang didengarnya itu diberitahukannya kepada Zaid. Langsung waktu itu juga Zaid menemui Nabi dan mengatakan bahwaia bersedia menceraikannya. Tetapi Nabi menasihatinya: “Jaga baik-baik istrimu, jangan diceraikan. Hendaklah kamu ikut kepada Allah”
Tetapi pergaulan Zainab dengan Zaid sudah tidak baik lagi. Kemudian ia dicerai. Muhammad menahan diri untuk tidak segera mengawininya sekalipun hatinya gelisah. Ketika itu Allah berfirman:
Ingatlah, ketika kau katakana kepada orang yang telah diberi karunia oleh Allah, dan kau memberi  kenikmatan kepadanya: “Pertahankianlah istrimu dan bertaqwalah engkau kepada Allah.” Engkau merahasiakan dsalam hatimu apa yang oleh Allah hendak dinyatakan; engkau takut kepada manusia padahal Allah lebih berhak kau takuti. Maka setelah Zaid mengakhiri (perkawinannya) dengan dia, dengan segala keharusannya, Kami kawinkan engkau dengan dia, supaya jangan ada kesukaran bagi orang mukmin mengawini istri-istri anak angkatnya, bila dengan segala keharusannya sudah memutuskan hubungan (perkawinan) dengan mereka; dan ketentuan Allah harus terlaksana” (QS.33:37)
Setelah itulah perempuan itu dikawininya. Dengan perkawinan ini semarak cinta berahi dan api asmaranya yang menyala-nyala dapat dipadamkan. Nabi apa itu?! Bagaimana ia membenarkan hal itu buat dirinya sedang buat oranglain tidak?! Bagaimana ia tak tunduk kepada undang-undang yang katanya diturunkan Tuhan kepadanya?! Bagaimana pula “harem” ini diciptakan, yang mengingatkan orang pada raja-raja yang hidup bermewah-mewah, bukan pada para nabi yang saleh dan memperbaiki kehidupan ummat?! Selanjutnya, bagaimana pula ia menyerahkan pada kekuasaan cinta dalam hubungannya dengan Zainab sehingga ia menghubungi Zaid bekas busaknya supaya menderaikannya, kemudian ia tampil mengawininya! Hal semacam ini pada zaman jahiliyah pun dilarang, tetapi Nabinya orang islam ini membolehkan, karena mau meuruti kehendak nafsunya, mau memenuhi dorongan cintanya”

Mari kita cermati pernyataan kaum orientalis di atas. Pernyataan tersebut tentunya akan menggoyahkan mereka yang beragama dengan ilmu dan kesadaran. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam pernyataan itu, seakan-akan wahyu hanyalah rekayasa Muhammad sebagai pembenaran dari perlakuannya dalam mengumbar nafsu saja, lalu menutup lemungkina orang lain bisa mengikutinya.
Kenyataanya dan Mengapa Demikian.
Dalam menanggapi hal tersebut, argumentasi yang cukup cerdas dikeluarkan oleh tokoh muslim dari Mesir, Muhammad Husain Haikal. Beliau nerpendapat bahwa:
Mereka para orientalis memang menuliskan sejarah Nabi dari sumber-sumber primer yang valid, tetapi mereka menggambarkannya dengan mengumbar khayal, membangun istana fantasi dalam khayal mereka tentang Muhammad dan hubungannya dengan perempuan. Beberapa hal yang harus diketahui dalam memahami dialektika ini adalah bahwa
1.      Setelah wahyu mengenai pembatasan jumlah istri turun, maka Istri muhammadpun tak bertambah. Artinya, sebelum wahyu tersebut turun, belum ada aturan mengenai jumlah istri yang diperbolehkan.
2.      Sampai usia lima puluh tahun, Muhammad hanya beristrikan Khadijah.
Muhammad menikiah dengan Khadijah dalam usia dua puluh tiga tahun, usia muda remaja, dengan perawakan yang indah, paras muka yang tanpen, gagah dan tegap. Sebagai manusia yang hidup di lingkungan budaya arab, Muhammad sebetulnya memiliki hak penuh untuk berpoligami. Selain karena budaya poligami yang sangat umum di masyarakat arab saat itu, juga karena hingga umu lima puluh tahun Khadijah tak mampu mengarunia seorangpun anak laki-laki yang hidup. Hal ini sudah lebih dari cukup untuk membuat ia sangat dianjurkan untuk berpoligami dalam kerangka budaya arab. Namun, apa yang beliau lakukan kemudia?, dengan segala alasan yang meberikannya hak penuh untuk berpoligami, Muhammad tetap keukeuh hidup berdua dengan Khadijah yang notabene belasan tahun lebih tua dari beliau. Apakah mungkin sesudah mencapai umur lima puluh tahun, yang satu-persatu kenikmatan dicabut dari dirinya, beliau berubah mendadak sontak 180o menjadi seorang penggila sex?? Apalagi, itu dilakukan hanya dalam waktu tujuh tahun?? Tak mungkin kiranya tujuannya melulu soal sex.
3.      Fakta menarik tentang istri-istri Rasul.
Ada beberapa fakta unik mengenai rasul dan istri-istrinya, diantaranya adalah:
-          Muhammad hanya memiliki keturunan dari Khadijah sebelum umurnya mencapai lima puluh tahun dan hanya berketurunan dari Maria di usia enam puluh tahun. Padahal, banyak istrinya yang jauh lebih menarik secara gairah birahi.
-          Tak ada satuppun sumber yang menyebutkan bahwa Saudah binti Zam’ah adalah seorang cantik atau berharta, atau menjanjikan kepuasan seksual dalam perkawinannya. Beliau adalah seorang seorang terpinggirkan yang setia dalam perjuangannya mengikuti perintah Rasul dan merupakan janda miskin seorang sahabat Nabi yang setia Sakran bin Amr.
-          Aisyah dan Hafsah dinikahi Muhammad karena untuk mengikatkan dalam hubungan darah dengan ayah mereka, sebagaimana ia mengikatkan hubungan yang sama terhadap Ali dan Usman dengan menikahkan Anaknya dengan keduanya. Bahkan umar pun bersaksi bahwa jika bukan karena beliau, maka mustahil Nabi mau menikahinya, apalagi mengingat usia keduanya yang masih terlalu belia sedangkan usianya sudah berkepala lima.
-          Pernikahannya dengan Saudah, Zainab binti Khuzaimah dan um Salamah mengandung misi perlindungan terhadap kaum dhuafa dan jaminan bahwa ketika seorang muislim gugur di medan perang, maka istri dan anak-anaknya tak akan terlantar begitu saja. Ketiganya adalah janda jihad, dan ketiganya berjuangan dengan banyak anak dalam kerangkeng kemiskinan.
4.      Misi dibalik dinikahinya Zainab binti Zahsy.
Menikahnya Rasul dengan Zainab binti Zahsy tak lepas dari hubungan beliau dengan Zaid bin Haritsah, anak angkatnya sendiri. Perlu diketahui sebelumnya bahwa Zaid adalah mantan budak keluarga Bani hasyim yang Zainab adalah salah satunya. Zainab sempat menolak ketika Nabi melamarnya untuk Zaid. Selain karena Zaid yang tak kerasan lagi hidup berrumahtangga dengan seorang mantan majikannya dan ahirnya menceraikannya, Muhammad menikahi Zainab juga untuk menghancurkan budaya masyarakat arab yang mengatakan bahwa istri dari seorang anak angkat, maka sama hukumnya seperti terhadap anak kandung. Disinilah kemudian menjadi pembuktian keyakinan Muhammad bahwa untuk memastikan perintah Allah (QS.33:37) bisa berjalan, maka ia jadikan dirinya sendiri sebagai tumbal pendobrak.
Fakta mengenai lima puluh tahun kehidupan nabi Muhammad hanya beristrikan Khadijah mengajarkan kepada kita dengan tegas bahwa kecuali dalam keadaan luar biasa, beristrilah satu saja. [bali]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar